Pengikut

Cari

28 September 2010

N O M A D E N

Dalam hitungan bulan sudah 6 orang di lingkungan ku yang harus beralih tugas ke kota lain, bahkan harus menyebrang pulau. Beralih tugas sebenarnya hal yang biasa di lingkungan TNI, hal ini diperlukan demi peningkatan karier karena jabatan di tempat yang lama sudah tidak sesuai maka di perlukan penyesuaian jabatan di tempat lain. Selain itu apabila seorang anggota TNI mempunyai banyak pengalaman dengan berbagai macam jabatan dia akan mampu mengatasi berbagai macam masalah dalam pekerjaannya dengan baik itu yang diharapkan.
Tapi kenyataan ternyata tidak semudah kata-kata, beberapa waktu lalu aku menyaksikan bagaimana repotnya tetanggaku yang hendak pindah dari Makassar ke Jakarta.
Setelah cukup lama tinggal di Sulawesi itupun setelah berputar-putar dari Menado-Kendari-Makassar akhirnya sekarang temanku itu pindah ke Jawa, setelah menempuh suatu jenjang pendidikan untuk kenaikan pangkat dan jabatan.
Ada rasa bahagia karena jabatan suami akan meningkat tapi semuanya tidak sederhana. Seluruh keluarga harus ikut pindah termasuk sekolah anak-anak, dan kantor istri bagi yang bekerja. Untuk istri yang berstatus ibu RT mungkin tidak terlalu masalah. Tapi bagi istri yang bekerja ada beberapa pilihan yang sama susahnya, ikut pindah kantor juga kalau bisa atau tetap di kantor lama dengan konsekuensi tinggal berjauhan ( lain kota bahkan ada yg lain pulau ) dengan suami, atau mengundurkan diri dan memilih profesi sebagai Ibu RT. Semuanya membutuhkan pengorbanan besar dan masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Hidup adalah pilihan, masing-masing dari kita akan memilih yang terbaik menurut kita. Tapi adakalanya si istri ingin tetap bekerja tapi tidak bisa pindah pekerjaan dan dia juga ingin tetap tinggal bersama suami, dalam hal ini ada suami yang memilih tidak mengikuti pendidikan untuk menaikkan kariernya. Inipun juga suatu pilihan yang membutuhkan pengorbanan besar, paling tidak korban perasaan ketika teman yang satu letting pangkatnya lebih tinggi dengan jabatan lebih diatasnya, bahkan adik-adik letting sudah menyalip pangkatnya. Sekali lagi hidup adalah pilihan, kita harus siap dengan berbagai resiko atas pilihan yang kita pilih....
Sekarang masalah sekolah anak-anak, bagi yang dari Jawa pindah keluar Jawa tidak terlalu bermasalah karena mutu pendidikan di Jawa jauh lebih baik daripada yang di luar Jawa. Anak-anak tidak kesulitan untuk mengikutinya. Hanya mungkin terkendala maslah bahasa daerah yang berbeda. Itu yang terjadi pada anakku beberapa waktu lalu. Dari SDIT Ihsanul Fikri Mgl anakku pindah ke SDN Pampang II Makassar, dari hanya sekedar kelas unggulan dan bukan juara 1 , anakku langsung menjadi juara 1 bahkan sempat menyabot juara 1 OSN , dan maju ke tingkat propinsi..sayang dukungan , bimbingan dan perhatian dari pihak sekolah sangat minim sehingga tidak mampu maju ke tingkat nasional.
Tapi kepindahan sekolah anak akan menjadi berat apabila dari luar Jawa ke Jawa, itu pula yang terjadi pada anak-anak kakakku dari Kalimantan pindah ke Jawa. Membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi keponakanku untuk bisa beradaptasi dengan pelajaran di sekolah barunya di Jawa. Itu pun dengan perjuangan keras belajar terus menerus dengan bimbingan guru privat untuk mengejar ketertinggalan dari rekan-rekan di Jawa. Memang harus kita akui kalau tingkat pendidikan di Indonesia ini tidak merata, itu semua dikarenakan SDM dan fasilitas yang berbeda.
Masalah lain yang gak kalah bikin pusing adalah masalah barang-barang kita. Untuk level jabatan yang sudah cukup tinggi memang tidak terlalu masalah karena disediakan fasilitas rumah dinas dengan isinya. tapi bagi level kebanyakan fasilitas itu tidak ada. Apa boleh buat harus memilih barang-barang di packing dan dikirim ketempat baru dengan biaya yang tidak sedikit. Karena menyewa container atau dikirm dengan truk apalagi harus masuk kapal dibutuhkan biaya berjut-jut...
Atau memilih menjual barang-barang dan membeli kembali di tempat baru..., tapi biasanya untuk barang yang sudah dipakai biasanya dijual murah dan untuk barang-barang yang tidak layak jual paling dibagi-bagi ke anggota dan tetangga... Bagaimanapun juga kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli barang-barang baru di tempat yang baru nantinya...
Hal berikutnya yang selalu kita pertanyakan bila pindah tugas adalah, " ada rumah dinas gak ya..? " Idealnya dimanapun kita bertugas rumah dinas sudah disediakan tapi kenyataannya tidak seperti itu, beberapa teman bercerita mereka harus mengganti biaya kepemilikan rumah dinas dengan dana yang tidak sedikit, ada yg dapat rumah dinas tapi kondisinya sudah sangat rusak sehingga harus merogoh kocek dalam-dalam untuk memperbaikinya. Bahkan ada yang tidak ada rumah dinas sama sekali sehingga harus mengontrak atau membeli bagi yang banyak duit. Tapi ada pilihan yang kadang bikin miris suami terpaksa memilih tinggal di kantor dan si istri dan anak-anak tinggal di rumah orang tua di kota lain, itu pula yang terjadi pada beberapa teman-temanku. Suami tinggal di kantornya di Jkt dan istri serta anak-anak tinggal di Semarang. Semua kerepotan ini tidak sebanding dengan UPD ( Uang Perjalanan Dinas ) yang di peroleh. UPD diterima beberapa bulan kemudian bahkan ada yg lebih dari 1 th kemudian, entah mengapa begitu lama baru turun. Itupun jumlahnya sangat kecil kadang-kadang hanya setengah bahkan kurang dari setengah biaya yang telah kita keluarkan. Sekali lagi aku tidak mengerti mengapa begitu kecil UPD yang diterima... apa memang kecil atau ada yang sengaja memotong aku juga gak tahu.., kalau ya..kok ya tega amat sih motong hak orang lain ? Pesanku untuk rekan-rekan yang suaminya belum pernah pindah tugas atau saat ini sedang mengikuti atau mempersiapkan mengikuti pendidikan apakah itu secapa, selapa, seskoad siapkan kantong setebal mungkin, rajin-rajin menabung bersyukurlah yang lahir di keluarga berekonomi kuat sehingga mampu membantu menopang perekonomian kita saat harus keluar biaya lebih saat pendidikan atau pindahan.
Issue tentang remunerasi untuk anggota TNI beberapa waktu lalu yang sempat mencuat sebenarnya sudah sangat layak untuk diterimakan. Entah mengapa sampai sekarang issue itu hilang bak ditelan bumi apa hanya dihembuskan saat menjelang Pemilu saja ? Gak tahu ah....
Untuk rekan-rekan di Komisi I DPR RI please..help me !! Perjuangkan nasib kami jangan mikir diri sendiri...