Pengikut

Cari

12 Januari 2010

Orang Ke 2

Orang ke 2 adalah adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut wakil ketua, wakil pimpinan atau wakil komandan. Sebagian orang menghindari jabatan ini, jabatan wakil ketua yang berkesan jabatan bayang-bayang ketua memang tidak mudah . Aku terinspirasi menulis tentang orang ke 2 ini, setelah aku melihat di lingkunganku banyak sekali ketidak harmonisan antara orang pertama alias ketua dengan orang ke 2 atau wakil.
Dalam perjalanan karier seorang anggota TNI adakalanya dia harus melewati jabatan waka atau wadan, dan otomatis sang istri pun menjadi Wakil ketua Persit. Yang mau tidak mau-mau kita harus menerima jabatan tersebut.
Perselisihan antara orang pertama dan orang ke 2 tidak hanya terjadi di militer, tapi di masyarakat sipil pun kita sering menyaksikannya. Sebagai contoh , pada akhir masa jabatan presiden SBY dan Wakil presiden JK kita menangkap ketidak harmonisan ke2nya berdasarkan statment yang mereka keluarkan, juga di Sulsel hubungan antara Gubernur Amin syam dan Wakilnya Syahrul yasin Limpo sudah bukan rahasia lagi ketidak harmonisan keduanya bahkan berlanjut di persaingan Pilkada yang akhirnya di menangkan oleh SYL. Tidak hanya ditingkat Nasional tapi ditingkat regional hal demikian sering terjadi. Dan jika terjadi perseilisihan antara ketua dan wakil, yang jadi korban pasti anggota atau rakyat. Karena anggota bingung akan berpihak kemana, bahkan terkadang anggota terpecah menjadi 2, sebagian berpihak pada orang pertama dan sebagian berpihak pada orang ke 2.
Aku pernah merasakan menjadi orang ke 2 ataupun orang pertama yang mempunyai orang ke 2. Perselisihan akan timbul kuncinya ada di orang ke 2 yah...60 % lah, dari pihak ketua cukup 40 %. Aku akan berbagi bagaimana menghindari perselisihan antara orang  pertama dan orang ke 2, tapi sebelumnya aku akan mengulas sebab-sebab terjadinya perselisihan yang kadang-kadang menjalar menjadi perang dingin antara orang pertama dan orang ke 2. Penyebab utama biasanya karena orang ke 2 kurang memahami perannya. Dia tidak memahami bahwa posisinya hanyalah sebagai pemimpin cadangan. Seorang wakil hanya akan bertindak apabila ketua tidak berada di tempat, selama ada ketua maka ketualah yang berhak mengambil keputusan dan kebijaksanaan. Tapi yang sering terjadi wakil ketua bersikap berlebihan sehingga seolah-olah dalam suatu lembaga atau organisasi ada dua matahari yang bersinar.  Seorang wakil ketua tetap harus memohon petunjuk pada ketua dalam mengambil keputusan dan kebijaksanaan, kecuali dalam suatu kondisi dimana ketua tidak ditempat dan dalam kondisi darurat wakil ketua wajib mengambil keputusan yang tepat tapi tetap harus selalu memberikan laporan pada ketua.  Seringkali perselisihan dapat juga terjadi apabila orang ke 2 tidak mau membantu tugas orang pertama, ini biasanya karena kecemburuan sosial, dalam hal tanggung jawab orang pertama dan orang ke 2 hampir sama besar tapi dalam hal pembagian rejeki sangat jauh selisihnya.  Tapi adakalanya orang pertama tidak mau menghargai sama sekali dengan orang ke 2 nya, tidak mau berbagi rejeki, tapi soal pekerjaan banyak dibebankan pada orang ke 2. Seorang ketua yang arogan akan menyusahkan wakil dan anggotanya, apalagi kalo wakil di dukung anggota.  Dalam hal demikian seorang wakil tetap harus bisa menjadi jembatan penghubung antara ketua dan anggota jangan malah menjadi provokator dari anggota, menjadi orang ke 2 memang harus banyak sabar dan mengalah, jangan bertindak melampaui ketua, jangan menempatkan posisi sejajar dengan ketua, tapi selangkah di belakang ketua. Tetap belajar menjadi orang pertama tanpa harus bersikap melampaui wewenang. Karena percayalah suatu saat kita akan sampai ke posisi orang pertama hanya kita harus sabar ada masa-masa yang memang harus kita lalui terlebih dahulu....

08 Januari 2010

In Memoriam Bu Tiar

Nama suaminya pak Bahtiar, makanya dia dipanggil Bu Tiar. Sosoknya nggak ada yang istimewa, biasa saja sama seperti ibu-ibu yang lain. Berperawakan sedang, berkulit putih, gerakannya lincah dan gesit , dia tidak pernah marah selalu tersenyum dan tertawa. Di mataku bu Tiar sangat istimewa.
Akan aku ceritakan awal perkenalanku dengan Bu Tiar. Waktu itu di tahun akhir tahun 2006, aku baru saja melaksanakan Sertijab langsung mendapat tugas untuk menjamu tamu bintang satu dari Jakarta. Sebagai pejabat baru, bingung dan panik pastilah ini tugas pertamaku yang pasti akan jadi sorotan, kredibilitasku di mata atasan dipertaruhkan disini. Langkah pertama yang aku ambil adalah mengumpulkan seluruh istri perwira dan merencanakan untuk membuat suatu tim kecil. Dari rapat kecil itu tercetuslah nama Bu Tiar, semua merekomendasikan nama Bu Tiar. Waktu itu aku tidak tahu pasti siapa dia, yang aku tahu bu Tiar adalah salah satu anggotaku. Tanpa banyak tanya aku Acc Bu Tiar dilibatkan dalam Tim kecil kami walaupun dia bukan istri perwira. Dan ternyata malam itu acara berjalan lancar dan sukses, tidak ada teguran tapi pujian. Dan semua tidak lepas dari peran Bu Tiar, dia bergerak sangat lincah dan gesit, tanpa banyak instruksi yang aku berikan Bu Tiar sudah tahu apa yang harus dia kerjakan. Dia bekerja dengan sangat cepat dan rapi, pantas semua orang merekomendasikan dia.
Hari-hari berikutnya aku mulai mengenal Bu Tiar, dia istri seorang tamtama berpangkat Kopral dengan 4 orang anak. Bu Tiar belum genap 40 th tp dia menjadi anggota persit dalam usia yang masih sangat muda 16 th..!! Artinya dia sudah lebih 20 th bergabung di Persit. Sejak perkenalanku dengan Bu Tiar, hampir dipastikan Bu Tiar selalu aku libatkan dengan berbagai kegiatan Persit. Aku kagum dengan cara kerjanya, dia tidak akan berhenti bekerja sebelum semua pekerjaan selesai secara tuntas. Kebetulan kami tinggal di daerah terpencil, tapi justru itu kami sering mendapat kunjungan tamu dari pusat. Alhamdullilah semua itu dapat aku lewati dengan baik. Bu Tiar adalah salah satu andalanku, saat kami semua sudah kelelahan, Bu Tiar tetap bersemangat menyelesaikan semua tugas dia tidak akan berhenti sebelum semua beres. Dia bahkan tidak lupa untuk memikirkan hal-hal yang kadang tidak sempat aku pikirkan. Seperti halnya, disaat aku sibuk kadang aku lupa dengan diriku sendiri dan keluargaku. Tapi Bu Tiar tidak, dia selalu menyempatkan untuk memikirkan aku, anakku dan suamiku. Bukan itu saja dia juga selalu peduli dengan teman-teman yang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Ternyata semua orang di asrama kami sangat tergantung dengan Bu Tiar, tidak peduli apa pangkat suaminya. Setiap ada acara dirumah anggota , mereka selalu melibatkan Bu Tiar, dari mulai belanja, memasak, penyajian, hantaran bahkan sampai apa yang harus dibagikan bagi orang-orang yang membantu, tidak luput dari perhatian Bu Tiar. Itulah keiistimewaan Bu Tiar, dia selalu siap membantu siapa pun apakah itu atasan, teman-teman, bawahan, saudara bahkan masyarakat sekitar yang bukan siapa-siapa. Begitu tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih. Bu Tiar tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum, tertawa dan tidak banyak bicara. Sebenarnya tidak hanya di lapangan saja, di organisasipun tugas persit yang aku berikan ke Bu Tiar selalu dia kerjakan dengan cepat dan tuntas. Bagiku bu Tiar adalah ibu Persit teladan,walaupun dia tidak pernah menjadi ketua maupun ketua seksi, karena pangkat suaminya. Tapi dia sangat memahami setiap tugas di dalam Persit. Dia juga tidak pernah melupakan keluarganya, anak-anaknya terpelihara dengan baik, rumahnya selalu bersih dan rapi, bahkan aku pernah memberikan penghargaan pada rumahnya sebagai rumah terbersih dan rapi ( setiap bulan aku memberikan hadiah bagi rumah yang terbersih dan rapi, tujuannya agar anggota terpacu untuk membersihkan rumah ) Disaat tidak banyak kegiatan Bu Tiar membuat kue untuk dijual di asrama, dan aku angkat jempol untuk kreatifitasnya ini bahkan aku dorong terus dia untuk berwirausaha. Kopral Bahtiar adalah orang paling beruntung karena mempunyai istri seperti dia. Semua pekerjaan rumah tangga dia selesaikan tanpa melibatkan suami, pak Tiar tinggal terima beres. Bagiku itu luar biasa....
Tidak itu saja, karena seringnya bu Tiar mendampingi aku dalam berbagai kegiatan di Makassar. Ibu Kapaldam sangat terkesan sehingga Bu Tiar pun sering mendapat hadiah dari beliau karena melihat cara kerjanya yang cepat, tepat dan tidak banyak bicara .
Setelah aku beralih tugas dan tidak lagi tinggal di Sambueja Bantimurung Maros, setiap ada kegiatan gabungan di Makassar aku masih sering bertemu dengan Bu Tiar. Masih tetap sama dia masih penuh perhatian pada keluargaku. Dia sering mengirim makanan kesukaan anakku Tegar, menanyakan kabar keluarga. Tapi setahun lalu tepatnya tahun di awal tahun 2009 aku dapat kabar tidak enak, Bu Tiar di vonis sakit kanker mulut rahim stadium 2 dan harus dikemoterapi. Aku bergegas ke rumah sakit dengan sedih, tapi ketika aku bertemu dengan Bu Tiar tak sedikitpun raut sedih diwajahnya, harusnya hari itu aku yang menghiburnya tapi justru dia yang menghiburku dengan segala ketegaran di hatinya. Luar biasa.....!!!
Sejak kemoterapi yang pertama itu aku mulai jarang bertemu dengan Bu Tiar, dia lebih sering di Jeneponto tinggal dengan keluarga besarnya. Meskipun beberapa kali aku masih sempat bertemu dengannya, memang badannya semakin kurus tapi tetap tersenyum dan ceria. Tapi di bulan desember 2009 Bu Tiar masuk RS lagi, ketika aku menjenguknya dia tetap tersenyum meskipun seluruh tubuhnya membengkak karena sel-sel kanker sudah mengerogoti ginjalnya. Dan malam itu aku ngobrol banyak dengan Bu Tiar agar dia tetap semangat seperti biasanya dan tak lupa untuk selalu berdoa. Tapi hari itu menjadi hari terakhirku mengobrol dengan Bu Tiar, karena 2 hari kemudian Bu Tiar koma dan tidak pernah sadar selama 12 hari. Bahkan ketika aku kembali menjenguknya, mengajaknya bicara, menangis di sampingnya Bu Tiar tetap tidak bergerak hanya matanya sempat bergerak-gerak ketika aku bicara. Akhirnya saat itu pun tiba Bu Tiar dipanggil menghadap Nya, tepat disaat negeri ini berkabung kehilangan tokoh besarnya Gus Dur. Disaat negeri ini mengibarkan bendera setengah tiang, akupun mengibarkan bendera setengah tiang di hatiku. Bu Tiar sudah pergi meninggalkan kami semua, dia adalah guruku dalam kehidupan ini. Dari Bu Tiar aku belajar banyak tentang ketulusan, kesetiakawanan dan keikhlasan. Bu Tiar memang bukan siapa-siapa , dia bukan tokoh besar seperti Gus dur tapi walaupun kini Bu Tiar telah pergi , semangatnya masih tetap hidup di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan Bu Tiar... aku yakin saat ini engkau berada di tempat yang istimewa di sisiNya sesuai dengan amal perbuatanmu..... ( Medio akhir tahun 2009)

01 Januari 2010

Menjadi Ketua Berjiwa Pemimpin

Beberapa waktu lalu mantan anggotaku di kesatuan lama, menelponku intinya dia curhat tentang masalahnya dengan ibu Ketuanya, yang dalam hal ini adalah penggantiku. Masalah berawal dari kesalahpahaman. Si Ibu Ketua mendapat laporan dari anaknya bahwa si anggota meludah di hadapannya, padahal si anggota sedang sakit dia bermasalah dengan pencernaannya dan tanpa sengaja meludah di hadapan anak si ibu Ketua. Akibatnya Ibu dan anak ini mendamprat habis-habisan keluarga anggota tersebut.
Sebenarnya ini bukan yang pertama mantan anggotaku curhat bermasalah dengan ibu Ketua tersebut, jujur sudah ada 4 orang sebelumnya yang mengalami kesalahpahaman dengannya. Masalah yang dihadapi bukan masalah yang besar, hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan. Setiap memperoleh laporan dari mantan anggota, aku sangat hati-hati dalam menanggapinya karena aku sudah orang luar bagi mereka, aku tidak bisa ikut campur tangan dalam masalah mereka. Selama ini aku hanya memberikan dukungan moral, mengajak mereka bersabar dan yang pasti menjadi pendengar yang baik buat mereka.
Sangat bisa dipahami mengapa mantan anggotaku masih sering curhat ke aku, karena secara emosional aku dekat dengan mereka meskipun suamiku sudah tidak bertugas di kesatuan itu lagi.
Dimanapun suamiku bertugas aku memang selalu berusaha membangun hubungan kekeluargaan dengan anggota. Kesatuan tempat kami bertugas bagiku adalah sebuah Keluarga Besar, dimana satu sama lain harus saling menjaga persaudaraan. Suamiku selalu mengajarkan bahwa menjadi Ketua itu gampang siapa saja yang ditunjuk bisa menjadi ketua, tapi menjadi Pemimpin, tidak setiap orang bisa menjadi pemimpin. Karena Pemimpin artinya dia adalah orang terdepan yang bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya, harus membawa anggota pada kebaikan, bisa menjadi contoh dan suri tauladan. Setiap menjadi ketua, aku tidak ingin menjadi ketua yang ditakuti tapi aku lebih suka menjadi ketua yang dirindukan. Dalam mengajak anggota untuk berorganisasi aku tidak suka dengan cara keras dan paksaan, tapi aku lebih suka mengajak mereka dengan "daya tarik" , mungkin sebagian orang menggangap aku lemah di depan anggota. Tapi itulah yang aku pelajari dari Cara Rasulullah dan para sahabat berdakwah. Aku membuat anggota merasa nyaman dan terkesan kepada ku, tanpa paksaan sama sekali.
Dalam menghadapi pengurus aku tidak main pukul rata, setiap pengurus aku pelajari satu persatu karakter mereka. Setelah tahu persis karakter mereka baru aku menentukan sikap bagaimana mendekati dan berbicara dengan mereka. Sebagai contoh, si Ibu A mempunya sifat serius tidak suka bercanda, sensitif, dan mudah tersinggung , aku memperlakukan dengan sangat hati-hati kata-kata yang ku pilih sebisa mungkin jangan sampai menyinggung perasaannya karena kalau sampai dia tersinggung dan antipati kepadaku akan sangat susah mengarahkannya. Lain lagi dengan Ibu B dia hobi banget ngobrol, kalau ngomong selalu hal-hal yang tinggi, aku mencoba menjadi pendengar yang baik dan mencoba memancing imajinasinya hasilnya ternyata dia sebenarnya orang yang sangat kreatif dan itu tentu sangat bermanfaat bagi organisasi. Bagaimana cara mempelajari karakter mereka adalah dengan kita sering ngobrol satu persatu dengan mereka, mendengarkan mereka dengan mata dan hati, menjadikan setiap anggota itu istimewa, sehingga mereka percaya kepada kita, merasa nyaman, tidak ada ketakutan dan akhirnya mereka pun menjadikan kita juga istimewa.
Kalau sudah begitu kegiatan organisasi akan berjalan mulus permasalahan dapat ditekan seminimal mungkin. Karena dalam organisasi sangat manusiawi bila terjadi gesekan dan masalah. Tapi bagaimana kita menjadikan masalah besar menjadi kecil, tanpa mengecilkan masalah itu sendiri. Tentu saja itu memang membutuhkan skill, tapi skill yang bisa kita pelajari. Untuk mempelajari hal tersebut dibutuhkan tekad yang kuat bahwa setiap Jabatan adalah amanah yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya di Akherat , kita juga harus menjadi contoh yang baik buat anggota baik dalam organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Tekadku berjihad dengan menegakkan amar makruf nahi munkar adalah target dan tujuan. Semua itu memang membutuhkan waktu yang agak panjang, berlahan tapi pasti setiap keputusan dan tindakan akan mengarah kesana.
Minimal hasilnya anggota datang ke pertemuan dengan gembira tanpa merasa terpaksa sama sekali. Aku berjanji setiap anggota datang ke pertemuan tidak pulang dengan sia-sia minimal mereka pulang dengan membawa ilmu baru. Setiap pengurus bergiliran memberikan pendidikan anggota, meskipun kadang bahan dan ide aku yang berikan, kadang-kadang aku sendiri yang memberikan pendidikan anggota kepada mereka, tentu saja dengan sebelumnya aku mencari bahan lewat majalah dan internet. Suasana pertemuan selalu heboh dan menggembirakan. Hubungan antara ketua dengan pengurus, pengurus dengan pengurus ataupun pengurus dengan anggota dan antar anggota berjalan penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Setiap masalah terselesaikan dengan sangat manis.
Anggota atau pengurus berbuat salah adalah manusiawi toh mereka bukan malaikat yang selalu benar, mereka manusia biasa yang mempunyai kekurangan. Cara menegur mereka pun aku buat sesantai mungkin tanpa bentakan tanpa kata-kata menusuk perasaan, kadang dengan bercanda yang tidak menyinggung perasaan. Dan yang paling utama aku menyadari bahwa dalam suatu organisasi tidak ada yang sempurna, kekurangan adalah milik manusia dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Hubungan keluargaku pun menjadi contoh utama bagi anggota, perselisihan suami istri kami olah menjadi ajang diskusi bukan pertengkaran. Caraku mendidik anak juga akan menjadi panutan bagi anggota. Alhamdullilah anak tunggalku mempunyai prestasi yang membanggakan. Pada intinya kami sekeluarga bahu membahu menjadi contoh terbaik bagi anggota, jadi tidak hanya kata-kata tapi juga dalam praktek kehidupan sehari-hari kami berusaha melakukan yang terbaik meskipun mungkin kami bukan yang terbaik.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi perenungan bagi yang saat ini duduk menjadi ketua atau yang belum menjadi ketua. Aku memang belum menjadi ketua dalam lingkup yang besar, tapi aku selalu mengamati setiap orang yang menjadi Ketua. Hal-hal yang baik dari mereka aku tiru dan hal-hal yang membuat anggota tidak nyaman terhadap sang ketua aku tinggalkan. Setiap Ketua memang punya wewenang tapi bukan untuk sewenang-wenang. Kadang kita menemui anggota yang ketika dipanggil ketuanya ketakutan dan bertanya-tanya sudah berbuat salah apa. Aku lebih suka memanggil anggota dan mereka datang dengan gembira tanpa rasa takut sekalipun. Toh ketua manusia biasa dan bukan monster . Dengan memposisikan diri kita di posisi mereka akan membuat kita memahami apa yang mereka rasakan. Jika kita memahami posisi mereka kita akan bisa mengolah rasa tidak puas terhadap anggota dengan sangat santun dan elegant.

09 Maret 2009

Harapan dalam Persit

 Sebuah pertanyaan dari seorang ibu Persit, memberikan inspirasi bagiku untuk menulis lagi .
Masalah klasik yang selalu terjadi di semua tingkat organisasi Persit. Dimanapun  kami bertugas aku menghadapi masalah ini. Adanya kesenjangan, diskriminasi, perbedaan status baik antara anggota dengan anggota, pengurus dengan anggota, pengurus dengan pengurus maupun pengurus dengan ketua, ketua dengan anggota. Di setiap level hal ini biasa terjadi. Yang menjadi pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi ? Penyebabnya kurangnya kematangan jiwa dalam berorganisasi. Karena merasa pangkat suami lebih tinggi, maka seorang ibu bersikap seenaknya pada ibu-ibu lain yang pangkat suaminya lebih rendah pangkatnya, atau karena merasa lebih berpendidikan seorang ibu merasa dia paling pintar di banding ibu-ibu yang lain.  Ada juga ibu-ibu yang walaupun masih muda tapi suaminya calon komandan sehingga tidak mau menghormati ibu-ibu lain yang lebih tua. Hal demikian menunjukkan si Ibu itu belum matang jiwanya, akibatkan menimbulkan permasalahan dalam organisasi. Sebenarnya benturan dalam organisasi biasa terjadi, karena bagaimana pun juga kita adalah manusia biasa yang berasal dari latar belakang keluarga, budaya, pendidikan yang berbeda. Tapi semua perbedaan pasti dapat di atasi dengan bijaksana, apabila kita menyadari bahwa kita semua bekerja dalam suatu wadah organisasi Persit yang sama-sama kita cintai. Dalam kehidupan berorganisasi kita harus mampu saling menjaga diri dan menjaga perasaan orang lain, karena kita hadir dan berada dalam wadah yang disebut organisasi. Kita datang dengan pembawaan yang berbeda, baik watak maupun sifat. Akan tetapi meski berbeda, kita dapat menyatu dan bersatu dengan landasan saling menghormati, saling mengasihi dan saling menyayangi, kita dapat saling mengisi.  Sifat egois, mau menang sendiri, merasa lebih daripada yang lain akan merusak kehidupan dalam organisasi. Karena ada pihak-pihak yang merasa dikalahkan, tidak dihargai bahkan merasa tersakiti.
Kita harus sadari bahwa di dalam berorganisasi tidak ada sukses atau keberhasilan yang dihasilkan oleh satu orang saja. Berorganisasi merupakan kerja sama tim atau kerja kolektif, yang setiap orang harus bisa merasa bertanggung jawab pada tugasnya. Bila kita menemukan kesalahan, kekurangan atau kekeliruan pada hasil kerja seseorang, maka yang lain harus memberi  bantuan dan perbaikan dalam bentuk saran atau nasihat dengan cara yang luwes, bersifat kekeluargaan dan persaudaraan. Jangan menggunakan kata-kata yang berkesan menggurui, merasa lebih pintar karena akan menyakitkan rekan kita.  Kita juga harus menghormati orang yang lebih tua meskipun pangkat suaminya di bawah suami kita. Semboyan saling asah, saling asih, dan saling asuh akan sangat berguna dalam hal ini.  
Sebuah harapan bisakah kita ibu-ibu yang bernaung di bawah payung organisasi yang bernama Persit, merasa sebagai satu kesatuan tanpa melihat asal suami, letting suami dan embel-embel lain yang menimbulkan kesenjangan, sehingga anggota Persit bisa saling mempererat tali persaudaraan untuk sukses bersama guna menunjang keberhasilan tugas-tugas berat yang diemban TNI yang kita cintai.


19 Desember 2008

BERBAGI RASA

Sejak resmi menyandang gelar ibu Persit pada tanggal 7 Maret 1997 aku tidak langsung aktif di organisasi istri prajurit ini. Bagaimana tidak aku masih tercatat sebagai karyawati sebuah Bank Swasta di Magelang, ijin tidak masuk kantor karena sakit saja susah sekali apalagi minta ijin untuk datang pertemuan Persit. Aku hanya datang Pertemuan kalo aku pas ambil cuti, akibatnya aku sering diomelin ibu-ibu seniorku. He..he aku maklum mereka tidak tahu kondisiku yang waktu itu masih tercatat sebagai karyawan yunior baru 2 th kerja, pengangkatan sebagai karyawan tetap saja baru 1 th, otomatis aku masih dalam penilaian perusahaan. Ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu aku cuek saja, apalagi seiring waktu berjalan aku mendapat kepercayaan dari perusahaan untuk memperdalam ilmu perbankkan dangan mengikuti beberapa training di kota Solo dan Magelang. Setelah hampir 4 tahun berjalan , dimana aku sudah dikarunia seorang bayi akhirnya aku menyerah ketika aku harus dihadapkan pada pilihan antara karier dan keluarga. Setelah beberapa kali sholat mohon petunjuk aku mantap mengundurkan diri dari perusahaan. Aku yakin rejeki datangnya bisa dari mana saja tidak dari satu tempat. Keluar dari kerja aku benar-benar menikmati peranku sebagai ibu dan istri sepenuhnya, tapi tidak serta merta aku aktif di persit karena anakku masih membutuhkan perhatianku secara extra. Hanya saja setelah anakku berumur 3 tahun aku mulai aktif di persit Jabatan pertamaku di kepengurusan Persit adalah Ketua Seksi Organisasi Ranting 2 Depmipatek Cabang II PCBS Akmil, jabatan itu mengharuskan aku sering berhubungan dengan ibu-ibu pengurus Cabang II Sdirbindik akibatnya aku dipercaya menjadi pengurus Urusan Ekonomi Persit KCK Cab II Sdirbindik PCBS Akmil. Aku juga Aktif ikut kegiatan yang diadakan oleh Cabang, salah satunya adalah senam setiap 2 kali seminggu di gedung Sudirman Panca Arga Magelang. Suatu ketika Ibu Ketua Cabangku Ibu Mardikowoto berkenan mengadakan lomba Poco-Poco Perorangan . Disitu aku tampil mewakili Rantingku dan hasilnya nggak sia-sia aku jadi juara 1 dengan sebutan Queen of Poco-poco. Rupanya lomba ini membuka peluang bagiku. Seiring dengan maraknya lomba poco-poco di mana-mana, tawaran untuk melatih poco-poco mau pun menjadi juri lomba poco-poco pun berdatangan baik dari dalam kesatuan maupun dari berbagai instansi di luar Akmil. Bahkan kantor tempatku bekerja dulu pun sempat mengundangku untuk melatih poco-poco. Hubungan pertemanan ku pun makin luas, imbalan yang aku terima pun lumayan setelah sekian lama hanya menikmati uang suami aku merasakan kembali mempunyai uang hasil keringatku sendiri, puas sekali rasanya. Sementara anakku sudah mulai masuk di sekolah Play Grup, waktuku semakin leluasa. Berbagai macam lomba poco-poco baik di dalam maupun luar kota aku ikuti dengan mengusung nama PCBS AKMIL, meskipun tidak selalu menang tapi pengalaman ku bertambah, disamping itu tawaran untuk tampil menari di berbagi acara pun berdatangan dari acara HUT Persit tingkat Akmil hingga Acara Lepas Sambut Gubernur Akmil. Dengan makin bertambah jam terbang ku aku makin percaya diri, aku mulai berpikir untuk mencari sumber penghasilan lain kebetulan aku berkenalan dengan Mbak Endang , dia ibu dari teman anakku di Play Grup dari awalnya hanya ngobrol-ngorol waktu jemput anak sekolah kami sepakat menjalin hubungan bisnis. Aku ambil barang dari dia lalu ku jual ke teman-temanku, ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan jualanku laris manis , aku mulai mengembangkan dengan tidak hanya menjual baju tapi menjual sprei atau penutup tempat tidur yang aku ambil langsung dari pembuatnya di Klaten. Dan itupun berjalan lumayan lancar, dari modal awal hanya 1 juta sampai akhirnya sampai 10 juta modal yang harus aku keluarkan. Selama hampir 3 tahun usahaku berjalan tak terasa tabunganku pun bertambah. Aku memang menerapkan management keuangan usahaku dengan sungguh-sungguh, setiap bulan aku bikin rekap keuangan untuk diriku sendiri. Terhadap langganan aku menerapkan sistim kekeluargaan pada waktu itu prinsipku dari pada aku menyimpan uangku di Bank lebih baik aku putar untuk usaha lumayanlah hasilnya lebih besar daripada hanya mengendap di Bank. Hanya saja memang tidak semuanya mulus ada saja beberapa pembeli yang setelah ambil barang terus kabur nggak pernah melaksanakan pembayaran tapi jumlahnya tidak lebih dari 10 % keuntungan yang aku terima selama ini, jadi ya aku iklaskan saja anggap itu zakat yang harus aku keluarkan.
Pada tahun 2004 suamiku beralih tugas di Pal Akmil, otomatis keanggotaanku di Persit pun beralih. Di tempat baru aku diangkat Sebagai Ketua Seksi Kebudayaan Ranting 2 Pal Cabang III PCBS Akmil, dalam waktu yang hampir bersamaan aku diangkat sebagai pengurus Cabang III Sdirbinlem PCBS Akmil di sie Kebudayaan juga. Usahaku masih berjalan bahkan aku juga mulai melirik usaha membuat kue kering, yang ku beri label " TEGAR COKIES " Sesuai dengan nama anakku. Meskipun usaha ini tidak menghasilkan uang berlebih tapi aku cukup puas karena keuntungan dapat aku pergunakan untuk membelikan bingkisan lebaran untuk anggota.
Di Pal akmil aku menangkap suatu peluang usaha, karena di Pal akmil tidak ada kantin dimana anggota kalo mau makan harus keluar dari lingkungan kantor dengan waktu yang cukup lama. Aku beranikan diri menghadap Kapal Akmil waktu itu Letkol Nur Budi Asmara, ternyata beliau setuju. Akhirnya aku bersama dengan sahabatku Bu Tarman mengumpulkan anggota yang bersedia mengelola kantin persit. Kantin pun berjalan lancar dengan modal awal dari kami pribadi, tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal hanya dalam hitungan hari modal sudah kembali keuntungan pun lumayan bisa buat beli pulsa lah, disamping itu tiap bulan kami bisa memberikan intensif ke Bendahara Persit Ranting dan koperasi Pal Akmil. Bersamaan dengan itu aku juga melanjutkan study ku untuk memperdalam ilmu hukum yang selama ini sempat aku lupakan. Aku ambil kuliah Profesi Advokad di UMM Magelang, setelah lulus aku mencoba melamar di LBH UMM Magelang dan diterima menjadi Asisten Advokad. Waktu kuatur sedemikian rupa antara kegiatan Persit dan tugasku di LBH, kebetulan suamiku sedang melaksanakan pendidikan Selapa jadi waktuku setiap pagi hanya mengurus anakku yang sudah mulai masuk SD, baru setelah itu ke Kantin Pal sebentar kemudian berangkat ke LBH, sorenya sambil menunggu si kecil pulang sekolah ( Anakku pulang sekolah jam 16.00 karena bersekolah di sekolah Full Day School) aku menyiapkan masakan yang akan dijual di kantin besok, aku kebagian bikin soto ayam. Meskipun hari-hariku sibuk aku tetap senang melewati hari-hari ku.
Setelah pendidikan Selapa berakhir suamiku mendapat tugas di Wirabuana, bersamaan dengan itu aku mendapat tawaran untuk bekerja di Yayasan Konsumen yang akan didirikan di Magelang. Sekali lagi aku dihadapkan pada pilihan antara karier dan keluarga. Dan lagi-lagi kecintaanku pada keluarga mengalahkan segalanya. Dengan ihklas aku tinggalkan semua yang telah kuraih dan mengikuti suami bertugas di Makassar. Satu bulan di Makassar aku mendapat kabar aku lulus ujian Advokad tingkat Nasional yang memang sempat aku ikuti 2 hari menjelang aku berangkat ke Makassar. Aku cukup bersyukur karena dari sekian ribu peserta di seluruh Indonesia hanya 30 % yang lulus dan aku termasuk salah satunya. Beberapa bulan di Makassar ada teman yang menawarkan aku untuk eksis lagi di bidang Pengacara, tapi lagi-lagi suamiku harus pindah tugas ke Bantimurung Maros. Apa boleh buat tawaran itu harus aku abaikan dan memilh mendampingi suamiku dimanapun dia bertugas. Pilihan untuk mengikuti suami ditempat terpencil ternyata bukan pilihan yang salah. Meskipun tadinya aku berpikir tidak dapat berbuat banyak nyatanya banyak sekali yang bisa aku kerjakan, setiap sore aku kumpulkan anak-anak anggota untuk belajar bahasa Inggris dengan suka rela alias gratis. Aku juga ingin setiap anggotaku pintar, aku pinjamkan buku-buku pada mereka, aku juga ajarkan membuat dan menghias kue, memasang payet, memanfaatkan barang-barang bekas dan tentu saja mengajari senam poco-poco, reggae, cha-cha, skj agar mereka sehat. Kami juga sempat 2 kali di percaya untuk mewakili Paldam VI/Wirabuana untuk mengikuti lomba bugar dan lomba Reggae, juga lomba membuat tumpeng. Aku juga mendorong anggota untuk berwirausaha kecil-kecilan. Rasanya bahagia sekali bisa bermanfaat buat orang lain. Aku sering tersenyum sendiri melihat anak-anak anggota yang bernyanyi lagu anak-anak dalam bahasa Inggris yang aku ajarkan atau mereka mengucapkan salam kepadaku dalam bahasa Inggris ( Aku mewajibkan mereka menyapa dengan menggunakan bahasa Inggris setiap bertemu dengan ku ) Sebagai Ketua Anak Ranting aku tidak mewajibkan anggotaku yang bekerja untuk aktif ikut kegiatan Persit. Karena aku pernah merasakan jadi karyawan, jadi aku sangat paham kondisi mereka. Dan bagi yang punya bayi aku juga memaklumi bila mereka tidak bisa aktif, bagiku yang penting mereka bisa menjalankan tugas sebagai ibu dan istri dengan baik di keluarganya dan Persit sifatnya hanya sebagai penunjang.
Ada pertemuan ada pula perpisahan, setelah 1,5 th bertugas di Bantimurung Maros suami beralih tugas lagi ke Makassar sampai sekarang. Kesibukan ku hanya di Ranting Paldam VII/Wrb, dan Yayasan Kartika . Di Anak Ranting agak susah mengaktifkan anggota karena mereka tinggal berjauhan, untuk datang pertemuan di kantor saja mereka harus berganti-ganti angkutan. Saat ini aku sedang mulai menekuni lagi hobi lamaku selama kuliah yaitu menulis. Tunggu tulisan-tulisan ku lagi ya.......

18 Desember 2008

Foto kegiatan





16 Desember 2008

PERSIT KU SAYANG

Ketika pertama kali pacaran dengan anggota TNI tidak pernah kebayang bakalan menjadi anggota Persit. Apa itu persit pun tidak pernah terpikir di benakku. Kalo sekarang aku nulis di blog tentang Persit , aku mau ngasih sedikit gambaran tentang Persit pada cewek-cewek yang sekarang sedang pacaran dengan anggota TNI alias calon-calon anggota Persit baru he..he..he. Bukannya sok pinter lho karena aku jadi anggota Persit juga baru 12 tahun kurang dikit, dibanding yang sudah lama melanglang buana di organisasi aku masih jauh lah tapi lumayan lah. Persit itu singkatan dari Persatuan Istri Prajurit, sejarah Persit bisa dibaca di Website tentang Persit, sampai AD/ART dan aturan2 yang laen semua ada. Makanya aku nggak mau ngulangin lagi. Cukup aku ngasih gambaran bagaimana kita harus bergaul di Persit. Persit itu bagian dari TNI-AD, jadi boleh dikatakan kegiatan Persit itu setengah Dinas. Meskipun selalu dikatakan yang punya pangkat itu suami, dan anggota Persit itu semua sama saja, tapi kenyataannya tidaklah demikian. Dalam Persit ada Ketua, Pengurus dan Anggota. Ketua, sudah pasti dijabat oleh istri komandan atau istri anggota yang pangkatnya paling tinggi. Yang lain jadi pengurus dan anggota. Kalo kita menjadi anggota Persit, hilangkan semua atribut yang melekat di dalam diri kita sebelum kita menikah. Artinya, siapa kita, anak siapa, asal dari mana itu tanggalkan semua. Meskipun kita anak seorang yang sangat dihormati sangat di segani atau kita seorang manager di sebuah perusahaan maupun seorang yang bergelar ningrat itu semua harus kita lepaskan disaat kita bergabung dengan Persit. Bagaimanapun juga kita tidak bisa melepaskan diri dari aturan yang ada dalam Dinas, dimana dalam TNI itu ada yang namanya hierarki begitu juga dalam Persit , meskipun dalam aturan tertulis hal ini tidak ada. Tapi kalo kita langgar kita akan disebut sebagai anggota Persit yang tidak punya sopan santun. Apalagi bergaul dengan ibu2 yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Ada ibu2 yang suka menjilat ke atasan, ada yang suka menjelek-jelekkan teman, ada yang mau menangnya sendiri tapi yang baik juga banyak kok, ada yang keibuan, bijaksana, sopan, pinter dll. Bagaimana menjadi anggota Persit yang baik tentu saja yang bisa menempatkan diri kapan harus menjadi anggota, menjadi pemimpin, menjadi ibu dan istri secara seimbang. Sementara ini dulu ya, ntar disambung lagi mau masak dulu nih...